MENIKAH.XYZ

Tips Seputar Relationship dan Pernikahan

Tata cara dan syarat tunangan dalam islam

Dalam tradisi Islam, khitbah adalah prosesi di mana keluarga calon pengantin pria mengunjungi rumah calon pengantin wanita. Pengantin pria akan meminta untuk calon pengantin wanita untuk menjadi istrinya di pertemuan itu.

Kata khitbah, berasal dari dalam bahasa Arab yang berarti meminang. Seperangkat tindakan lamaran antara dua individu dari lawan jenis (laki-laki dan perempuan) yang berniat untuk menikah dikenal sebagai khitbah.

Wanita yang dilamar akan berstatus mukhthubah, yang artinya telah dilamar, sudah menikah, atau bisa juga disebut sebagai wanita bertunangan, jika khutbahnya diterima. bagian dari kelompok yang khotbahnya telah dikhotbahkan jika dia menolaknya.

Lalu apa pedoman dan proses penerapannya? Pedoman untuk mempraktikkan khitbah dibahas di sini. Artikel ini dikompilasi oleh tim menikah.xyz dari sejumlah sumber.

Syarat dan Aturan Khitbah dalam Islam

Sebagian besar ulama sepakat bahwa khitbah adalah tahapan sebelum pernikahan yang melibatkan persiapan. Selama memenuhi syarat khutbah, maka khitbah yang mengikat seorang wanita sebelum menikah adalah sah.

Islam membolehkan khatbah karena hanya bertujuan untuk menentukan diterima atau tidaknya wanita yang dilamar dan untuk meyakinkannya bahwa pria itu tulus dan berniat untuk melamar.

Kriteria wanita yang boleh dilamar:

1. Bisa dilakukan hanya pada perempuan yang masih perawan atau janda yang sudah habis masa iddahnya.

2. Perempuan sedang tidak dalam masa iddah. Dalam Alquran Allah SWT berfirman: “Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah.” (QS Al-Baqarah: 228).

3. Pihak calon mempelai perempuan bukanlah mahrom dari pria pelamar.

4. Perempuan sedang tidak dilamar oleh orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seseorang dari kamu meminang (perempuan) yang dipinang saudaranya, sehingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau telah mengizinkannya.” (HR Abu Hurairah).

Selain itu, khitbah merupakan tahapan yang mendahului pernikahan tetapi bukan merupakan bagian dari pernikahan. Jadi, meski berupa khutbah, kedua mempelai tetap perlu mewaspadai beberapa batasan. Beberapa diantara batasan itu adalah:

  1. Hubungan calon mempelai pria dan wanita belum menjadi halal

Aturan syariat harus dijaga oleh kedua belah pihak. Meski telah dikhitbahkan, mereka harus menjaga jarak satu sama lain dengan menjaga jarak antara laki-laki dan perempuan dan mencegah satu sama lain melakukan perbuatan-perbuatan tertentu yang dilarang oleh syariat.

  1. Waktu khitbah tidak boleh terlalu panjang.

Disarankan untuk tidak menunggu terlalu lama antara ritual khitbah dan pernikahan. Pernikahan harus dipercepat untuk menghindari pencemaran nama baik dan potensi perilaku berbahaya lainnya.

Tata cara tunangan dalam Islam

Anda perlu mengetahui tata cara khutbah, yaitu sebagai berikut:

1. Memohon petunjuk Allah

Hendaknya terlebih dahulu membentengi hati dengan memohon petunjuk Allah melalui shalat istikharah sebelum menyampaikan khitbah.

2. Membaca doa dan Sholawat kepada Nabi.

Menurut penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, adalah sunnah bagi seseorang yang melamar untuk membaca hamdalah, bersyukur kepada Allah, dan memberikan shalawat kepada Rasulullah SAW. Baca juga: Doa Tunangan, Lamaran Atau Khitbah Dalam Islam

3. Berkunjung ke rumah calon pasangan

Setelah itu, keluarga calon mempelai pria akan melanjutkan perjalanan ke rumah calon mempelai wanita untuk memberitahukan preferensi mereka.

4. Mengungkapkan maksud dan tujuan

Pihak keluarga pria akan mengumumkan tujuan utama dari perayaan tersebut, yaitu untuk melamar pengantin wanita.

5. Pemberian tanggapan/jawaban dari pihak wanita

Calon mempelai wanita kemudian akan diberi tahu apakah permohonannya disetujui atau ditolak. Keluarga wanita akan dengan senang hati menyetujui rencana pengantin untuk pernikahan.

6. Memberikan Hantaran

Sebagai tanda keseriusan mempelai pria dalam membuat lamaran kepada calon pengantin, hantaran yang dibawanya akan diberikan kepada pihak keluarga mempelai wanita.

7. Kata-kata terakhir dari khitbah

Setelah kesimpulan dari diskusi utama, aplikasi akan ditutup. Pembacaan doa dibacakan di akhir acara untuk memastikan rencana pernikahan berjalan dengan sukses.

Batal Menikah Setelah Khitbah

Ada kalanya khitbah yang sudah disahkan atau disepakati tiba-tiba dibatalkan. Contohnya antara lain ketika pengantin tiba-tiba terjadi masalah antar keluarga satu sama lain, ketika ada pertengkaran di antara mereka, dan banyak lagi.

Ketika keadaan yang diperlukan tidak dapat dipenuhi, masa berlaku khotbah juga dapat dibatalkan. Wali menetapkan, misalnya, bahwa masa berlaku khotbah adalah dua bulan. Khotbah kehilangan keabsahannya setelah dua bulan jika calon pengantin pria tidak segera menikah dengan wanita yang menjadi subjek khotbah.

Jika ikatan yang sudah disepakati sudah tidak bisa dirajut kembali, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, maka sebaiknya bagi pria yang melamar menggunakan alasan yang tepat ketika ingin membatalkannya.

Syekh Wahbah az-Zuhaili memberikan cara yang benar, yaitu:

وينبغي الحكم على المخطوبة بالموضوعية المجردة، لا بالهوى أو بدون مسوغ معقول، فلا يعدل الخاطب عن عزمه الذي شاءه؛ لأن عدوله هو نقض للعهد أو الوعد

Artinya, “Sebaiknya, memutuskan (pembatalan rencana nikah) atas wanita yang telah dilamarnya itu dengan menggunakan alasan-alasan nyata yang tidak dibuat-buat, tidak disebabkan mengikuti hawa nafsu, atau tanpa sebab yang bisa diterima oleh akal. Sehingga, pria yang melamar tidak berpaling dari tujuan melamar yang ia kehendaki, sebab dengan berpaling dari janjinya, ia dianggap telah merusak janji-janjinya” (Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2010: juz 9, h. 19).

Kesimpulannya, jika sudah jelas ditemukan alasan yang bisa diterima oleh akal dan dibenarkan dalam Islam, segera membatalkan khitbahnya justru lebih baik, agar pihak wanita tidak terlalu mengharapkannya. Namun, jika alasannya tidak bisa dibenarkan, sekadar mengikuti hawa nafsu, atau bahkan hanya alasan yang dibuat-buat, membatalkan khitbah justru tidak baik. Karena membatalkannya menunjukkan ia bukan laki-laki yang bisa dipercaya, sehingga orang lain tidak mudah untuk percaya kepadanya. Tidak hanya itu, janji yang sudah disepakati, seperti janji khitbah, namun tidak dipenuhi akan dipertanyakan oleh Allah ﷻ kelak di akhirat. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

Artinya, “Dan penuhilah janji karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 34)

Oleh karenanya, seperti apa pun alasannya, jika masih bisa dilanjutkan, lebih baik tidak membatalkan janji dalam khitbahnya, menimbang efek yang akan terjadi pada dirinya, berupa tidak akan dipercaya oleh orang lain, juga tidak kalah penting mengingat firman Allah ﷻ di atas.

Sumber: https://islam.nu.or.id/nikah-keluarga/membatalkan-pernikahan-usai-lamaran-ini-ketentuannya-YSGG5

Demikianlah sedikit informasi mengenai Tata cara dan syarat tunangan dalam islam semoga memberikan manfaat bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published.